Mimpi tentang kematianku pada cerita lalu Satu Tahun Hilangnya MH 370 entah sebuah kebetulan atau sebuah isyarat untuk kepergian mamaku tercinta.
Pagi itu, 23 Maret 2015, aku mendengar berita duka, mamanya sahabatku Erwinto Gunawan telah meninggal dunia. Aku pun memberi ucapan duka cita kepada Erwinto dalam group BBM kami, Spiderman WOW.
Selesai mandi aku pun turun ke lantai satu, rumah makan kami, untuk sarapan. Tengah sarapan aku ditelepon adikku Veronica yang menangis mengabarkan kalau mama sehabis sarapan pingsan dan sudah dipanggilkan ambulance untuk dibawa ke UGD. Aku coba menenangkan, sambil berjanji aku akan berangkat ke Surabaya siang atau sore itu.
Belum habis sarapanku, adikku Veronica menelepon lagi mengabarkan kalau mama sudah pergi berdasarkan pemeriksaan dari petugas ambulance. Langit serasa runtuh! Sendi-sendi tubuhku serasa lemas... Tuhan telah mengambil orang tua terakhir dari empat orang tertua yang pernah serumah denganku pada masa lalu! Kini habis sudah, maka tinggal akulah yang tertua saat ini.
Lima belas tahun yang lalu aku masih merasa begitu takut kalau kehilangan salah satu anggota keluargaku. Kemudian satu per satu telah pergi tanpa terasa. Dimulai dengan sepupuku, Amiang, pada tahun 2004. Kemudian Kuku, kakak perempuan papaku, pada tahun 2006. Kemudian papaku pada 12 Januari 2012. Dan, mamaku setahun yang lalu, tepatnya 23 Maret 2015.
Bukan hanya anggota keluarga sendiri yang telah dipanggil Tuhan, tetapi beberapa teman sekelas dan teman sekolah juga telah pergi. Teman sekelas yang telah pergi adalah Julius Siagian 2009, Freddy Jonathan Papulele 2013 dan Untung Sadarsyah 2015. Demikian juga teman-teman gereja di Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis Denpasar, seperti Bpk. Antonius Samuel Reniban 2010, Bpk. Paulus Roestam Amardio 2012, dan beberapa lainnya.
Waktu terasa semakin dekat dan tersisa tidak banyak lagi. Aku siap kapan pun dipanggil. Tidak semua harapanku dan cita-cita hidupku terpenuhi. Kekecewaan dan harapan, kesedihan dan kegembiraan silih berganti. Melihat beberapa foto yang dibuat beberapa tahun lalu, temanku Thio Ming Siu berujar bahwa terasa sekali kita bertambah tua dengan cepat sekali. Aku membenarkan seraya tersenyum dengan kecut.
Mama yang terakhir pergi pasti dengan keyakinan anak-anaknya sudah bisa ditinggal. Aku merasakan itu. Mereka yang sudah pergi sudah lepas dari penderitaan dunia ini, dan telah bahagia di kehidupan yang baru. Aku percaya apapun lakon kita di dunia ini, Tuhan sangat mengasihi kita ciptaan-Nya. Kita semua akan kembali pada-Nya dalam kebahagiaan abadi. Tidak ada surga atau neraka, tapi semata-mata dalam kasih-Nya yang berkelimpahan dan tiada batas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar