08 Januari 2011

Wanita itu bernama Junko


Hari ini genap setahun sudah aku mengenal Junko. Seorang wanita Jepang yang tinggal di Tokyo. Bahasa Indonesia yang dipakai Junko dalam e-mail menyelamatkan e-mailnya dari tong sampah. Hampir saja aku menekan tombol Del!

Bukan aneh lagi kalau akun e-mail kita sering dibanjiri junk mail atau spam, walau akun-akun e-mail itu bisa otomatis menyortir e-mail yang bersifat spam, tapi beberapa ada juga yang bisa lolos dan masuk ke inbox kita. Bayangkan, aku pernah mendapat e-mail dari seorang pengacara di Inggris yang mengatakan bahwa aku mendapatkan wasiat dari kakekku yang kaya raya yang dua bulan lalu meninggal! Warisan sekian juta Pound Sterling! Wow! Hebat sekali aku punya kakek orang bule... hanya gara-gara nama belakangku Chris Arsen! Wakkakakakakkk...! Belum lagi e-mail yang aneh-aneh lainnya.

Kembali ke Junko. Kami tetap berteman hingga saat ini, dan banyak cerita yang sudah kami bagi bersama walau cuma lewat e-mail. Dari seluruh kisah hidup Junko ada dua hal yang aku kagumi dari dia, yaitu kegigihannya melawan "sakit rematik yang aneh" yang dideritanya sudah 10 tahun lebih hingga saat ini dan kegigihannya dalam belajar Bahasa Indonesia! Di bawah ini sebagian dari isi e-mail Junko yang pertama kepadaku, e-mail selengkapnya cukup panjang.

Halo, Mas Antonius. Apa kabar? Maaf, kalau e-mail saya yg.mendadak ini mengganggu Anda. Tapi jangan kaget ya...

Nama saya "Junko Lawson".

Saya seorang warga Jepang yg tinggal di Tokyo yg kebetulan baca situs anda. Bukan melewati Google Translate, saya baca situs asli anda. Di dalamnya saya sangat tertarik pada prinsip anda yg satu ini yaitu usahakan untuk menulis dalam Bahasa Indonesia yg benar, dan pendapat anda yg ada di dalam situs terutama mengenai "Peng-indonesia-an Nama dan Merek Dagang" itu pun sangat menarik buat saya. Saya yakin pasti anda merasa heran, kok kenapa orang Jepang bisa tertarik pada topik seperti itu. Iya kan? Dan kenapa saya bisa menulis dalam Bahasa Indonesia? Walaupun bahasanya tidak sebagus penutur asli, tapi saya mencoba untuk mengungkapkan perasaan saya dalam Bahasa Indonesia semaksimal mungkin ya.

Begini ya ceritanya, pada sekitar tahun 1989-1995 saya tinggal di negara anda. Waktu itu saya bekerja di Jakarta. Di samping itu juga saya belajar Bahasa Indonesia pada waktu itu tanpa bersekolah. Saya memang suka belajar Bahasa Indonesia pada saat itu, entah kenapa ya saya sendiri pun bingung. Tapi yg jelas Bahasa Indonesia itu memiliki keindahan atau keunikan tersendiri baik dalam nadanya maupun dalam kata-katanya. Sehingga dalam proses mempelajarinya, seorang pelajar asing bisa tertarik dan terpesona. Apa ini hanya dialami saya saja? Oh, tentu tidak. Buktinya banyak orang Jepang yg sependapat dengan saya.

Bagi saya, belajar itu sebuah kesenangan dan sama sekali tidak ada rasa berat. Apa lagi bagi saya semua orang Indonesia yg telah berada di dekat saya adalah guru Bahasa Indonesia semua. Saya sampai sekarang sangat sangat berterima kasih atas bantuan dan dukungan mereka yg benar-benar mendorong saya utk mencoba hidup di negara orang yg penuh dengan tantangan. Pokoknya...bagi saya Bahasa Indonesia itu sesuatu yg spesial benar.

Nah, sedangkan setelah saya kembali lagi ke Jepang, memang sempat saya bekerja sebagai interpreter selama 2 tahun di sebuah perusahaan mobil. Tapi setelah kontrakan itu selesai, ilmu saya yg saya kumpulkan di Indonesia selama itu, saya tinggalkan begitu saja dan hampir tidak pernah dipakai lagi. Sudah lebih dari 10 tahun saya abaikan dengan alasan di sini tidak ada teman yg berbahasa Indonesia. Walaupun saya kadang-kadang kangen sekali sama Indonesia dan sedih... Namun baru-baru ini, tiba- tiba saja keinginan saya untuk belajar kembali timbul di dada saya, itu adalah jadi seperti inspirasi saya yg baru dan sudah 3 bulan ini saya tiap hari menjalankannya. Sedangkan untuk menjalankan itu, Internet menjadi semakin dekat bagi saya, karena pc adalah suatu sarana yg cukup praktis, gampang untuk mengambil bahan belajar dari situ....


Saat ini Junko bekerja sebagai penerjemah lepas (freelance) bagi beberapa perusahaan Jepang yang mempunyai hubungan dan kegiatan di Indonesia, dan dia sudah mengantongi sertifikat kelulusan tingkat B untuk ujian Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Himpunan Penyelenggara Ujian Bahasa Indonesia (HIPUBI) di Jepang, yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Walau gagal di ujian tingkat A (tingkat tertinggi) baru-baru ini dengan selisih nilai yang sangat tipis, Junko tetap bersemangat dan dia akan mencoba lagi. Sudah pasti aku yakin dia akan berhasil nanti!

Yang membanggakan, Junko meraih juara satu dalam "Indonesian Language Speach Contest" yang diadakan di Nagoya, Jepang, pada tanggal 21 November 2010 lalu! Kontes diselenggarakan oleh sebuah universitas swasta Jepang yang mempunyai fakultas bahasa asing, termasuk Bahasa Indonesia. Junko meraih juara satu untuk kategori lomba puisi. Mengenai nama keluarga "Lawson", itu karena suaminya berasal dari negara Benin (Afrika barat).

Douzo Yoroshiku. Benkyou ganbatte kudasai ne.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ya Alloh YUNKO SANG , baca ceritanya sampai merinding, begitu indahnya.....seorang yang notabene Asing buatku begitu tulusnya, dan sebegitu gigiihnya mempelajari dan mencintai Bahasa Indonisia , salut dan hormat padanya , salam dari seseorang yang juga kagum dan bangga dilahirkan sebagai Bangsa Indonesia , meskipun menurut sejarahnya ,darah yang mengalir di tubuhku ini berasal dari Bangsa lain. Selamat ya, semoga selalu rematiknya tidak mengganggu segala aktifitasnya.

Samarinda Online mengatakan...

Terima kasih sdh berkunjung.. Semoga Junko membaca komentar Anda ini. Sampai hari ini sdh 2 tahun Junko tetap menjadi sahabat saya. Sukses selalu.

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.